Kenali 6 Jenis Kekerasan Emosional pada Anak yang Dilakukan Orangtua Narsis

Kekerasan emosional bisa berdampak buruk bagi masa depan anak, hindari melakukan enam jenis kekerasan emosional ini agar anak bisa tumbuh dengan perasaan aman dan penuh cinta.

Kekerasan tidak hanya berbentuk fisik seperti pemukulan, ada bentuk kekerasan lain yang dampaknya lebih merugikan, yakni kekerasan emosional. Kekerasan emosional pada anak terjadi saat orangtua ingin agar anak selalu bergantung padanya, sehingga menggunakan segala cara agar anak tidak berpaling ke orang lain.

Siapa yang sering melakukan kekerasan emosional terhadap anak?

Selain bullyingsecara verbal di sekolah, anak bisa mendapatkan kekerasan emosional dari orangtua. Yang sering melakukan hal ini adalah tipe orangtua narsis, yang selalu ingin agar anak dekat dengannya, dan selalu bergantung padanya.

Orangtua narsis memiliki watak obsesif, posesif dan manipulatif. Ia melakukan segala cara agar anak tidak bisa mandiri, sehingga selalu bergantung pada orangtua.

Orangtua narsis juga seringkali memaksakan obsesi atau impian pribadinya terhadap anak, memaksa anak berperilaku dan berpenampilan sesuai keinginannya. Sehingga anak tidak memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ia sukai dan apa yang ia tidak sukai.

Jenis-jenis kekerasan emosional yang dilakukan orangtua narsis

Kekerasan emosional bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental anak, sehingga lebih baik dihindari. Mengacu pada The Minds Journal, berikut ini adalah 6 jenis kekerasan emosional yang sering dilakukan oleh orangtua narsis.

1. Penolakan

Orangtua narsis yang menampakkan perilaku penolakan terhadap anak, seringkali secara sadar atau tidak sadar membuat anak merasa bahwa dirinya tidak diinginkan. Parahnya lagi, tidak hanya dengan satu cara namun dengan berbagai macam cara.

Bersikap merendahkan anak, atau mengacuhkan kebutuhannya adalah salah satu tipe kekerasan emosional yang mungkin terjadi. Contoh lainnya ialah, menyuruh anak pergi, atau lebih parah lagi, memintanya enyah dari hadapan orangtua.

Memanggilnya dengan nama-nama yang tak pantas, mengatakan bahwa ia tidak berguna, menjadikan anak sebagai kambing hitam, atau menyalahkan dia atas masalah yang terjadi pada saudaranya atau masalah keluarga. Semua hal tersebut adalah kekerasan emosional yang sangat menyakitkan bagi anak.

Menolak untuk bicara atau memeluk anak yang masih kecil saat ia tumbuh, juga bisa dikategorikan sebagai kekerasan. Berikut adalah rincian perilaku penolakan yang bisa berdampak buruk bagi perkembang mental anak.

  • Kritik yang diberikan secara terus menerus
  • Memanggil dengan nama buruk
  • Mengatakan pada anak bahwa dia jelek
  • Membentak atau mengutuk anak
  • Terus-terusan merendahkan anak, seperti menjulukinya bodoh atau idiot
  • Candaan yang merendahkan
  • Mengucapkan kata-kata yang mempermalukan anak di depan orang lain
  • Menggoda anak mengenai penampilan fisik, atau berat badannya
  • Menyatakan penyesalan karena anak tidak terlahir dengan jenis kelamin yang berbeda
  • Menolak untuk memeluk atau menunjukkan sikap penuh kasih sayang
  • Dengan sengaja meninggalkan anak sendirian di rumah, atau di tengah keramaian
  • Tidak mengikutsertakan anak dalam aktivitas keluarga
  • Memperlakukan anak yang sudah besar (remaja atau dewasa muda) seperti anak kecil
  • Mengucilkan anak dari keluarga
  • Tidak mengijinkan anak membuat keputusan sendiri yang masuk akal

2. Mengabaikan anak/orangtua bersikap acuh

Orang dewasa yang memiliki masalah pada pemenuhan emosi, seringkali tidak mampu merespon kebutuhan emosional anak. Mereka tidak bisa menunjukkan keterikatan yang baik atau memberikan pengasuhan yang positif.

Mereka akan menunjukkan sikap tak tertarik pada sang anak, atau menahan kasih sayang mereka. Atau bahkan gagal untuk mengenali kehadiran anak mereka sendiri.

Seringkali, orangtua hanya hadir secara ragawi, namun secara emosional mereka tidak ada. Mereka tidak bisa merespon atau berinteraksi dengan anak, secara terus menerus. Hal ini merupakan kekerasan terhadap emosional dan psikologis anak.

Berikut ini adalah contoh perilaku pengabaian terhadap anak.

  • Tidak merespon perilaku spontan balita saat berada di kegiatan sosial
  • Tidak menunjukkan perhatian pada momen penting dalam kehidupan anak
  • Tidak peduli pada kegiatan sekolah anak, teman-temannya, dan lain-lain
  • Menolak untuk membicarakan aktifitas anak dan juga hal-hal yang menarik bagi anak
  • Merencanakan liburan atau kegiatan lain tanpa mengikutsertakan anak
  • Tidak menerima anak sebagai keturunan
  • Tidak memberikan perawatan kesehatan yang dibutuhkan anak seperti perawatan gigi dan sebagainya.
  • Tidak melibatkan diri pada keseharian anak
  • Gagal melindungi anak

kekerasan emosional terhadap anak

Mengabaikan anak dan menolak terlibat dalam kesehariannya adalah salah satu bentuk kekerasan emosional

3. Membuat anak menjadi gentar/memberikan teror pada anak

Orangtua yang menggunakan ancaman, bentakan, atau mengucapkan kata-kata kasar seperti mengutuk atau sumpah serapah, semua itu akan memberikan dampak serius yang merusak pada psikologis anak.

Mengancam, mengkritik, menghukum anak hanya karena anak menunjukkan emosi yang normal, adalah tindak kekerasan yang tidak dapat diterima. Meski dikeluarkan dalam bentuk kelakar, bisa membuat anak ketakutan dan terintimidasi. Inilah kekerasan emosional terburuk.

Mereka yang menyaksikan atau mendengar kekerasan yang terjadi di dalam sebuah rumah, namun tidak melakukan apapun, juga bisa dianggap sebagai pelaku.

Diantara teror yang bisa membuat anak menjadi gentar dan ketakutan ada di bawah ini:

  • Menggoda anak secara berlebihan
  • Berteriak, membentak, mengeluarkan sumpah serapah atau menakut-nakuti
  • Respon yang tidak terduga dan berlebihan pada perilaku anak
  • Ancaman verbal yang ekstrim, seperti akan membuang anak, mengancam akan menghancurkan benda favorit anak, mengancam membunuh peliharaan kesayangannya, mengancam mengusir anak dari rumah
  • Amukan marah yang berganti-ganti dengan sikap hangat
  • Mencaci maki anggota keluarga di depan anak, atau anak bisa mendengarnya dari ruangan lain
  • Memaksa anak menonton tayangan tak manusiawi
  • Membuat tuntutan-tuntutan yang tidak konsisten pada anak
  • Menampakkan emosi yang berubah-ubah di depan anak
  • Mempermalukan anak di depan publik

Sebuah survei melalui telepon pada tahun 1995 menyatakan bahwa saat usia anak mencapai 2 tahun, 90% keluarga telah menggunakan satu atau dua bentuk serangan psikologis pada 12 bulan belakangan.

4. Mengasingkan anak

Orangtua yang melakukan kekerasan dengan cara pengasingan, anak tidak akan diperbolehkan terlibat dalam kegiatan apapun dengan teman sebayanya. Mengurung bayi di kamar, tidak memberinya rangsangan apapun yang bisa membantu pertumbuhannya.

Mencegah anak remaja untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler. Mengharuskan anak tetap berada di kamar sejak pulang sekolah hingga keesokan harinya, membatasi asupan makanannya. Atau memaksa anak mengasingkan diri dengan cara menjauhkannya dari teman dan keluarga.

Hal-hal seperti ini bisa sangat merusak dan dianggap sebagai kekerasan emosional, bergantung pada situasi dan tingkat keparahan.

kekerasan emosional terhadap anak

Mengasingkan anak dari dunia luar juga merupakan saah satu bentuk kekerasan emosional

Perilaku dan sikap berikut ini termasuk dalam kategori pengasingan, yang menjadi kekerasan emosional terhadap anak.

  • Meninggalkan anak sendirian dalam waktu lama
  • Menjauhkan anak dari keluarga
  • Tidak membolehkan anak memiliki teman, ataupun berinteraksi dengan anak lain
  • Memastikan anak memiliki sikap dan penampilan berbeda dari rekan sebayanya
  • Menuntut untuk belajar atau melakukan tugas secara berlebihan
  • Mencegah anak berpartisipasi dalam kegiatan di luar rumah
  • Menghukum anak karena dia mengikuti kegiatan sosial bersama teman

4. Memberi pengaruh buruk pada anak

Orangtua yang memberi pengaruh buruk pada anak dengan memperlihatkan kepada mereka perilaku buruk seperti mengonsumsi alkohol, narkoba, sikap buruk pada binatang, memperlihatkan konten seksual yang tidak pantas, atau terlibat dalam tindakan kriminal seperti mencuri, penyerangan, judi, dan lain-lain.

Mendorong anak yang masih di bawah umur untuk melakukan hal-hal terlarang adalah kekerasan, dan harus dilaporkan kepada polisi. Berikut adalah pengaruh buruk orangtua yang dikategorikan kekerasan emosional.

  • Memuji atau memberi hadiah saat anak melakukan bullying atau perilaku melecehkan kepada orang lain, mencuri, atau berbohong. Juga saat anak melakukan kegiatan seksual atau kekerasan
  • Mengajarkan anak untuk bersikap rasis, bias etnik dan fanatik terhadap suku atau agama sendiri
  • Mendorong anak untuk bersikap kasar saat melakukan kegiatan olahraga bersama teman
  • Memberi anak narkoba, alkohol dan barang ilegal lainnya

6. Eksploitasi

Eksploitasi anak bisa berbentuk manipulasi atau aktifitas yang dipaksakan, tanpa mempedulikan kebutuhan anak untuk berkembang. Contohnya, meminta anak berumur 8 tahun untuk bertanggung jawab menyiapkan makan malam keluarga, hal ini tidak patut dilakukan.

Memberi tanggung jawab pada anak melebihi kemampuan dan usianya, atau menggunakan anak untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini disebut kekerasan. Berikut adalah bentuk eksploitasinya.

  • Mengharapkan anak kecil dan balita untuk tidak menangis adalah keliru
  • Marah saat balita tidak bisa berkembang sesuai umurnya termasuk kekerasan emosional
  • Menuntut anak untuk menjaga adiknya yang lebih kecil, atau malah merawat orangtuanya
  • Menyalahkan anak atas perilaku salah yang dilakukan saudaranya
  • Memberi tanggung jawab yang tidak masuk akal pada anak
  • Mengharapkan anak menjadi tulang punggung keluarga
  • Mendukung anak untuk berpartisipasi dalam pornografi
  • melakukan kekerasan seksual pada anak atau remaja

***

Itulah keenam jenis kekerasan emosional yang dilakukan terhadap anak, bila Anda secara tak sadar telah melakukannya, segera hentikan. Bila melihat tetangga atau orang terdekat melakukannya, laporkan.

Anak berhak untuk tumbuh dengan perasaan bebas, mandiri, dan merasa dicintai. Bila sejak dini ia telah menerima kekerasan baik secara emosional maupun fisik, perkembangan mentalnya akan terganggu, dan ia bisa menjadi orang berperilaku buruk di masa depan.

Mari, stop kekerasan pada anak dengan cara apapun.

Artikel by :

https://id.theasianparent.com/6-jenis-kekerasan-emosional-pada-anak/

KPAI : Komisi Perlindungan Anak Indonesia

Advertisements

Jual Pass Box, Air Shower, Hepa-Filter, Spoel Hoek dan Pintu Hermetic Kamar Operasi Rumah Sakit

Aqsha Medika Group dalam pengembangan produk dan teknologi pada area Rumah Sakit khusus untuk ruangan bedah atau operasi yang membutuhkan tekanan udara yang terkondisikan dan ruangan yang harus bebas dari kontaminasi, diperlukan suatu area dimana transportasi obat atau material dan orang atau personil yang tidak mempengaruhi efek yang merugikan. Aqsha Medika Group pada dunia ruangan bersih dan steril pada instalasi kamar bedah Rumah Sakit, banyak fasilitas yang menciptakan produk-produk mengikuti masalah yang ada.

Adapun produk-produk standar Clean Room ruang operasi Rumah Sakit yang kami jual adalah sebagai berikut :

1. PASS BOX RUANG KAMAR BEDAH RS

Untuk transportasi obat atau material pada ruang kamar bedah rumah sakit umumnya dikenal dengan Pass Box.  Pass box adalah salah satu jenis fasilitas, yang terletak di dinding partisi kamar yang bersih dan fungsinya akan menjadi daerah penyangga untuk mentransfer barang antara di dalam dan di luar kamar yang bersih sehingga dapat mencegah gangguan aliran udara dan tekanan udara dalam ruangan yang bersih yang disebabkan oleh pembukaan pintu. Pass Box dipasang di dinding antara dua kamar untuk meminimalkan kontaminasi selama pengangkutan barang.

Selain itu, dapat mengurangi waktu untuk operator bergerak masuk dan keluar, untuk mencegah debu yang berasal dari luar daerah. Itu sebabnya ada satu penjaga sistem interlock menguasai inlet dan outlet passbox tidak bisa dibuka pada saat yang sama, dalam rangka untuk mencegah kontaminasi silang.

Pada umunnya Passbox juga digunakan di antara area yang bersih dan area yang kurang bersih. Pass Box Juga digunakan pada Micro-Technology, Biotechnology Laboratories, Farmasi, Pabrik Elektronik.

Pada umumnya Passbox terbuat dari Plat Stainless Steel yang memiliki pintu dua sisi yang terkunci otomatis. Kunci pada Passbox juga pada ada dua jenis sistem listrik otomatis atau sistem mekanikal, semua tergantung kebutuhan.

Passbox juga dapat dipasang Lampu UV untuk membunuh Bakteri dan dan juga dapat dipasang Call In Radio.

 

2. AIR SHOWER RUANG KAMAR BEDAH RS

Air Shower pada Rumah sakit masih sangat jarang digunakan. Sebenarnya Aplikasi ini dapat digunakan untuk Ruangan OK atau Ruang Bedah, dimana Pasien dan Dokter harus bebas dari Partikel yang merugikan.

Pada Air Shower dikhusus untuk personil. Mereka harus melewati air shower sebelum memasuki area cleanrooms untuk dekontaminasi. Hal ini dilakukan untuk mengosongkan tubuh personil dari debu dan partikel kotoran pada Cleanroom untuk meminimalkan kontaminasi peralatan atau produk. HEPA filter umumnya digunakan dalam unit Air Shower untuk menyaring partikel-partikel yang lebih besar dari 0,3 dalam ukuran mikrometer .

Ada berbagai kemungkinan desain untuk unit Air Shower, misalnya, shower satu sisi , shower sisi ganda, shower tiga sisi serta shower atas. Penyemprotan kecepatan angin sekitar 25 m / s atau di atas melalui nozel stainless steel. Sebagai persentase dari total biaya Cleanroom modern, biaya instalasi Air Shower dianggap kecil. Dalam berbagai bidang di mana kondisi steril sangat penting, misalnya, ilmu pengetahuan dan penelitian biomedis, farmasi, obat parenteral, mikroelektronika, kedirgantaraan dan pancuran manufaktur udara presisi dianggap peralatan penting.

Tujuan Air Shower karena kebutuhan kondisi steril dekat di ruangan bersih, Air Shower digunakan untuk dekontaminasi dengan kotoran dan partikel debu dari personil pada saat memasuki area cleanroom. Polutan yang dibawa oleh personil dapat mempengaruhi peralatan khusus. Jadi, Air Shower banyak digunakan pada pabrik di mana kondisi steril diperlukan.

 

3. HEPA FILTER RUANG KAMAR BEDAH RS

Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) tentang persyaratan bangunan fisik kamar operasi tertuang dalam  Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004, Dimana persyaratan Ruang Operasi adalah sebagai berikut:

-Indeks angka kuman: 10 CFU/m³,
-Indek pencahayaan: 300 – 500 lux,
-Standar suhu: 19 – 24 ºC, kelembaban: 45 – 60 %,
-tekanan udara: Positif,
-Indeks kebisingan 45 dBA dan
-waktu pemaparan 8 jam.

Untuk pemantauan kualitas udara ruang harus dilakukan uji kualitas udara (kuman, debu, dan gas). Sebagian besar Rumah Sakit belum sepenuhnya sesuai dengan keputusan tersebut diatas, khususnya berhubungan dengan tekanan udara di dalam ruang operasi. Cara pengukuran tekanan udara ini sangat mudah, dapat dilakukan dengan cara konvensional yaitu, letakkan pita ringan didepan pintu ruang operasi (pintu dalam keadaan dibuka sedikit; secukupnya), jika pita tersebut tidak bergerak menjauh dari pintu tersebut maka dipastikan tidak ada tekanan udara dari dalam ruang operasi.

Selama AC yang dipakai di dalam ruang tersebut tidak menggunakan system supply dan return air (ada udara yang diambil dari luar dan disaring kemudain masuk kedalam system pendingin untuk didistribusikan di dalam ruangan tersebut, serta adanya pembuangan sebagian udara ke luar ruang operasi melalui system pendingin udara),maka selama itu pula klasifikasi tekanan udara POSITIF  tidak pernah akan tercapai.

Produk AC yang siap pasang di pasaran adalah AC type split duct (system kerjanya seperti AC Sentral) tetapi daya listrik yang dibutuhkan relative kecil dan dapat di design untuk masing-masing ruangan operasi.

Filter yang dipakai adalah jenis Hepa Filter yang biasanya di supply oleh dengan Efisiensi 99.99% class 10.000-100.000. H13-H14. DOP Test 0.3Micron Menggunakan Frame ALUMINIUM dan HOUSING HEPA FILTER nya dari Bahan STAINLESS STEEL minimal Powder Coating.
Besaran atau size filternya bervariasi mengikuti standar ruang operasi dengan luas 6 x 6 meter tinggi plafon 3 meter dengan kelengkapan peralatan medis didalamnya cukup digunakan AC Split duck dengan kapasitas lebih kurang 5 PK.

4. PINTU HERMETIC RUANG KAMAR BEDAH RS

Pintu Hermetic/ Hermetic Door ruang operasi Rumah Sakit merupakan pintu khusus untuk ruangan dengan tingkat higienis yang tinggi dan tidak boleh terkontaminasi oleh udara luar. Pintu jenis ini memiliki sistem khusus yang dapat menutup dengan sempurna dan kedap udara sehingga akan mencegah kontaminasi bakteri dan infeksi. Tersedia juga Pintu Sliding Otomatis, Pintu Revolving, Pintu Ayun dan  Pintu Teleskopik.

Untuk pemesanan produk, brosur dan daftar harga jual Pass Box, Air Shower, Spoel Hoek, Hepa-Filter, Scrub Station dan Pintu Hermetic Ruang Kamar Operasi Rumah Sakit dengan bahan Stainless Steel buatan Aqsha Medika Group dan Jasa Konsultan Kontraktor Perencanaan dan Pembangunan Rumah Sakit, Puskesmas serta Klinik, silahkan menghubungi :

Kontak Person : Tn. M. Fadel Aqsha R,

HP (WhatsApp) : 082254825710 / 081382750006,

Email : aqshamedika@gmail.com,

Twitter : https://twitter.com/AqshaMedika,

Website : http://aqshamedika.com/

Berita Seputar Produk-Produk DAK BKKBN 2018 | Aqsha Medika Group

Pengadaan alat peraga BKKBN yang terkesan monoton dan terkesan kurang kreatif membuat pengembangan pengetahuan tentang ilmu kesehatan bagi petugas pelatihan dan masyarakat menjadi kurang maksimal. Media dan sarana yang dipergunakan masih terbilang sederhana dan sangat kurang syarat akan ilmu dan pengembangan pengetahuan.

Uji keterampilan sebagian besar hanya berporos pada pengetahuan tentang pengetahuan pada masyarakat saja, sedangkan pada peningkatan mutu dan kualitas tenaga kesehatan yang meliputi dokter dan bidan didaerah masih sangatlah kurang.

Pemantapan mutu dan kualitas seharusnya juga lebih ditingkatkan pada lini tenaga penyuluhan lapangan dengan kegiatan pelatihan dan pengembangan ilmu tentang Keluarga Berencana dari segi ilmu kesehatan.

Sebagaimana yang kita ketahui selama ini untuk kegiatan seperti seminar dan uji kualitas dan pemantapan mutu dari tenaga medis untuk mendapatkan kegiatan pemantapan mutu dan kualitas pengembangan ilmu hanya meliputi kegiatan pengenalan melalui media alat peraga yang tidak berkembang yaitu hanya sebatas pengenalan tentang pengenalan ilmu seputar alat kontrasepsi seperti Iud, Implan, Pil KB, Vasektomi, Tubektomi dan seputarnya.

Media alat peraganya pun hanya terdiri dari phantom/ manikin alat peraga kontrasepsi, reproduksi pria, reproduksi wanita, Iud planning education dan Lengan Implan seputar ini saja, sedangkan ilmu pengetahuan tentang pengembangan mutu dan kualitas tenaga penyuluhan dan tenaga medis masih banyak membutuhkan media alat peraga lainnya untuk pengembangan pengetahuan dan pemantapan mutu yang lebih luas sebagai antisipasi penanganan kasus dilapangan.

Dari hasil kegiatan uji pemantapan mutu dan kualitas tenaga medis dan penyuluhan lapangan tersebut dari para anggota yang mengikuti sebaiknya juga diberikan penghargaan sebagai tenaga medis dan penyuluhan teladan dan terbaik sehingga memicu semangat dan keinginan untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut.

Ide atau saran kegiatan yang kami coba tawarkan adalah proses pelatihan dan peningkatan mutu serta kualitas tenaga medis dan tenaga penyuluhan KB dalam kegiatan di BKKBN baik di Kabupaten, Kota, Provinsi dan Pusat yang bisa dibantu oleh tenaga-tenaga konselor berpengalaman, adapun kegiatan yang dilakukan misalnya :

1. Bagaimana cara penanganan kasus terjadinya perdarahan dan bagaimana cara menghentikan perdarahan,

2. Pelatihan pemantapan mutu dan kualitas bidan dalam proses persalinan,

3. Pengetahuan tentang kanker serviks,

4. Pengetahuan tentang pembukaan serviks,
5. Pengetahuan tentang kanker payudara,
6. Pengetahuan cara menyusui yang baik dan benar dan manfaat air ASI bagi ibu dan anak.
7. Pengetahuan tentang perawatan luka decubitus untuk para lansia

8. Dan masih banyak lagi pengembangan ilmu pengetahuan bagi tenaga medis dan tenaga penyuluhan dilapangan untuk peningkatan mutu dan kualitas kesehatan masyarakat melalui media Phantom/ Manikin Alat Peraga Kesehatan baik buatan import maupun buatan lokal dengan kualitas yang baik yang sudah sangat mudah didapatkan namun manfaatnya sangatlah berarti pada kemajuan dan percepatan program pemerintah dalam meningkatkan program kesehatan masyarakat melalui Keluarga Berencana.

Semoga pada program Keluarga Berencana kedepan bisa lebih memberikan pengetahuan yang lebih maju ketimbang sebelumnya melalui peningkatan mutu dan kualitas tenaga medis dan penyuluh lapangan dengan lebih banyak lagi menggunakan media pembelajaran yang lebih luas sesuai dengan kemajuan dan perkembangan jaman bukan atas dasar kepentingan yang sarat dengan unsur-unsur kepentingan tertentu di dalamnya yang hanya menghambur-hamburkan anggaran negara tanpa tujuan yang jelas dan terarah.

Ide kritikan dan saran ini dengan tujuan positif dan membangun, diharapkan ada perubahan yang lebih mendasar dengan atas dasar kebutuhan akan ilmu pengetahuan yang lebih dibidang kesehatan dalam peningkatan perbaikan dari program Keluarga Berencana Nasional agar tercapai tujuan yang kita harapkan bersama.

Aqsha Medika Group adalah perusahaan penyalur alat kesehatan medis, furniture rumah sakit, produk DAK BKKBN, Phantom/ Manikin Alat Peraga Kesehatan, Reagensia dan Bahan Kimia Laboratorium Radiologi, Bahan Habis Pakai serta Perlengkapan Apotik dan Farmasi.
Untuk pemesanan barang, brosur harga jual dan spesifikasi produk-produk Aqsha Medika Group silahkan menghubungi :

Kontak Person : Tn. M.Fadel Aqsha R,
Mobile (WhatsApp) : 082254825710 / 081382750006,
Telpon Kantor : 021-3912905
Facebook :
https://facebook.com/aqsha.medika.9
Twitter :

Website :
http://aqshamedika.com
https://aqshamedika.wordpress.com/
https://aqshamedika.blogspot.com/

Jasa Konsultan Perencanaan dan Pembangunan Rumah Sakit

Ruang Operasi Rumah Sakit merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam penyelenggaraan pelayanan medik di sarana pelayanan kesehatan. Ruang Operasi adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai daerah pelayanan kritis yang mengutamakan aspek hirarki zonasi sterilitas. Oleh karena itu kegagalan dalam pembedahan jangan sampai disebabkan oleh faktor perencanaan dan perancangan fisik bangunan dan utilitasnya yang tidak memenuhi persyaratan teknis.

Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit telah menerangkan mengenai teknis fasilitas ruang operasi persyaratan dan standar rumah sakit yang memenuhi standar pelayanan, keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan kegagalan yang disebabkan faktor fisik bangunan dan utilitasnya dapat dicegah.
Pembangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus bertujuan memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan, sehingga bangunan ruang operasi yang akan dibuat memenuhi standar kemanan, keselamatan, kemudahan dan kenyamanan bagi pasien dan pengguna bangunan lainnya serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.

Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh, dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan (;serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.
Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa dan angin. Dalam perencanaan struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit terhadap pengaruh gempa, semua unsur struktur bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, baik bagian dari sub struktur maupun struktur bangunan, harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rancangan sesuai dengan zona gempanya.

Ruangan yang harus ada dalam ruang operasi adalah sebagai berikut:
– Ruang Pendaftaran

– Ruang Tunggu Pengantar

– Ruang Transfer (Transfer Room)

– Ruang Tunggu Pasien (Holding Room)

– Ruang Persiapan Pasien· Ruang Induksi

– Ruang Penyiapan Peralatan· Ruang Operasi

– Ruang Pemulihan

– Ruang Resusitasi Bayi/ Neonatus

– Ruang Loker

– Ruang Dokter

– Scrub Station

– Ruang Utilitas Kotor (Spoel Hoek, Disposal)

– Ruang Penyimpanan Peralatan Kebersihan (Janitor)

– Ruang Linen· Ruang Penyimpanan Peralatan

RENCANA DESAIN FISIK RUANG OPERASI

I. PERSYARATAN UMUM
Sebagai bagian penting dari Rumah Sakit, beberapa komponen yang digunakan pada ruang operasi memerlukan beberapa persyaratan khusus, antara lain :
A. Komponen penutup lantai.
a. Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/ gesekan peralatan dan tahan terhadap api.b. Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia dan anti bakteri.c. Penutup lantai harus dari bahan anti statik, yaitu vinil anti statik. Tidak menghantarkan listrik. Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat Stahanan listrik lantai ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku.d. Permukaan dari semua lantai tidak boleh porous, tetapi cukup keras untuk pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.e. Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.f. Hubungan/ pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (Hospital plint).g. Tinggi plint, maksimum 15 cm.

B. Komponen dinding.
Komponen dinding memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak berjamur dan anti bakteri.b. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.c. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.d. Hubungan/ pertemuan antara dinding dengan dinding harus tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus aliran udara.e. Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, tidak punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan.f. Apabila dinding punya sambungan, seperti panel dengan bahan melamin (merupakan bahan anti bakteri dan tahan gores) atau insulated panel system maka sambungan antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan diding tanpa sambungan (;seamless), mudah dibersihkan dan dipelihara.g. Alternatif lain bahan dinding yaitu dinding sandwich galvanis, 2 (dua) sisinya dicat dengan cat anti bakteri dan tahan terhadap bahan kimia, dengan sambungan antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan diding tanpa sambungan (;seamless).

C. Komponen langit-langit.

Komponen langit-langit memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak berjamur serta anti bakteri.b. memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak menyimpan debu.c. berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.d. Selain lampu operasi yang menggantung, langit-langit juga bisa dipergunakan untuk tempat pemasangan pendan bedah, dan bermacam gantungan seperti diffuser air conditioning dan lampu fluorescent.e. Kebutuhan peralatan yang dipasang dilangit-langit, sangat beragam. Bagaimanapun peralatan yang digantung tidak boleh sistem geser, kerena menyebabkan jatuhnya debu pengangkut mikro-organisme setiap kali digerakkan.

D. Pintu Ruang operasi.

a. Pintu masuk ruang operasi atau pintu yang menghubungkan ruang induksi dan ruang operasi.a. disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka tutup secara otomatis.b. Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau menggunakan sensor, namun dalam keadaan listrik penggerak pintu rusak, pintu dapat dibuka secara manual.c. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan.d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass : double glass fixed windows).e. Lebar pintu 1200 – 1500 mm, dari bahan panil dan dicat jenis cat anti bakteri & jamur dengan warna terang.f. Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka ke arah dalam dan alat penutup pintu otomatis (;automatic door closer) harus dibersihkan setiap selesai pembedahan.

B. Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang scrub-up.

a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi.

b. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan “alat penutup pintu (door closer). Disarankan menggunakan door seal and interlock system.c. Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat jenis cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (;observation glass : double glass fixed windows).

c. Pintu/ jendela yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang spoel Hoek (disposal). (catatan ; jika menggunakan selasar kotor maka disposal material / barang bekas pakai langsung dibawa keruang CSSD atau untuk peralatan bisa dibawa keruang sterilisasi di area operasi dan linen ke CSSD)

a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi. b) Pintu/jendela tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan engsel yang dapat menutup sendiri (auto hinge) atau alat penutup pintu (door closer).

b. Lebar pintu/jendela 1100 mm, dari bahan panil (;insulated panel system) dan dicat jenis duco dengan cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.dan dicat jenis duco dengan warna terang.c. Pintu/jendela dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass : double glass fixed windows).

d. Pintu yang menghubungkan ruang operasi dengan ruang penyiapan peralatan/ instrumen (jika ada).

a. sebaiknya pintu/jendela ayun (swing), dan mengayun kedalam ruang operasi.b. Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan, untuk itu pintu dilengkapi dengan “alat penutup pintu (door closer).c. Lebar pintu 1100 mm, dari bahan panil dan dicat jenis duco dengan cat anti bakteri/ jamur dengan warna terang.d. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass :double glass fixed windows).

II. ZONASI RUANG OPERASI
Sistem zonasi pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit bertujuan untuk meminimalisir risiko penyebaran infeksi oleh micro-organisme dari rumah sakit (area kotor) sampai pada kompleks ruang operasi. Aspek esensial dari sistem zonasi ini dan layout/denah bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit adalah mengatur arah dari tim bedah, tim anestesi, pasien dan setiap pengunjung serta aliran bahan steril dan kotor.

Dengan menerapkan sistem zonasi ini dapat meminimalkan risiko infeksi pada paska bedah. Kontaminasi mikrobiologi dapat disebabkan oleh :
1. mikroorganisme (pada kulit) dari pasien atau infeksi yang mana pasien mempunyai kelainan dari apa yang akan dibedah.

2. petugas ruang operasi, terkontaminasi pada sarung tangan dan pakaian.

3. kontaminasi dari instrumen, kontaminasi cairan.

4. Jalur yang salah dari aliran barang “bersih” dan “kotor”
Udara dapat langsung (melalui partikel debu pathogenic) dan tidak langsung (melalui kontaminasi pakaian, sarung tangan dan instrumen) dapat menyebabkan kontaminasi. Oleh karena itu, sistem pengkondisian udara mempunyai peranan yang sangat penting untuk mencegah kondisi potensial dari kotaminasi yang terakhir. Adanya sistem zonasi tersebut menyebabkan penggunaan sistem air conditioning pada setiap zona berbeda-beda.

Keterangan :
1. Zona 1, Tingkat Resiko Rendah (Normal)
Zona ini terdiri dari area resepsionis (ruang administrasi dan pendaftaran), ruang tunggu keluarga pasien, janitor dan ruang utilitas kotor.
2. Zona 2, Tingkat Resiko Sedang (Normal dengan Pre Filter)
Zona ini terdiri dari ruang istirahat dokter dan perawat, ruang plester, pantri petugas. Ruang Tunggu Pasien (;holding)/ ruang transfer dan ruang loker (ruang ganti pakaian dokter dan perawat) merupakan area transisi antara zona 1 dengan zone 2.
3. Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi (Semi Steril dengan Medium Filter)
Zona ini meliputi kompleks ruang operasi, yang terdiri dari ruang persiapan (preparation), peralatan/instrument steril, ruang induksi, area scrub up, ruang pemulihan (recovery), ruang resusitasi neonates, ruang linen, ruang pelaporan bedah, ruang penyimpanan perlengkapan bedah, ruang penyimpanan peralatan anastesi, implant orthopedi dan emergensi serta koridor-koridor di dalam kompleks ruang operasi.
Merupakan area dengan kebersihan ruangan kelas 100.000 (ISO 8 – ISO 14644-1 cleanroom standards, Tahun 1999)
4. Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi (Steril dengan Pre Filter, Medium Filter, Hepa Filter)
Zona ini adalah ruang operasi, dengan tekanan udara positif. Merupakan area dengan kebersihan ruangan kelas 10.000 (ISO 7 – ISO 14644-1 cleanroom standards, Tahun 1999)
5. Area Nuklei Steril
Area ini terletak dibawah area aliran udara kebawah (;laminair air flow) dimana bedah dilakukan (meja operasi). Merupakan area dengan kebersihan ruangan kelas 1.000 sampai dengan 10.000 (ISO 6 s/d 7 – ISO 14644-1 cleanroom standards, Tahun 1999).

III. DENAH RUANG OPERASI
1. Ruang Operasi Minor
Ruang operasi untuk bedah minor atau tindakan endoskopi dengan pembiusan lokal, regional atau total dilakukan pada ruangan steril. Kegiatan induksi/anastesi dan penyiapan alat untuk bedah minor dapat dilakukan di ruang operasi dan bak cuci tangan (scrub-up) ditempatkan berdekatan dengan bagian luar ruangan ruang operasi ini. Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan minor, ± 36 m2, dengan ukuran ruangan panjang x lebar x tinggi adalah 6m x 6m x 3 m.

Peralatan utama pada ruang operasi minor ini adalah :
a) Meja Operasi.

b) Lampu operasi tunggal.

c) Mesin Anestesi dengan saluran gas medik dan listrik menggunakan pendan anestesi atau cara lain.

d) Peralatan monitor bedah, dengan diletakkan pada pendan bedah atau cara lain.

e) Film Viewer.

f) Jam dinding.

g) Instrument Trolley untuk peralatan bedah.

h) Tempat sampah klinis.

i) Tempat linen kotor.

j) lemari obat/ peralatan dan lain-lain.

2. Ruang operasi Umum (General Surgery Room).
Kamar operasi umum menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan bedah dengan pembiusan lokal, regional atau total. Kamar operasi umum dapat dipakai untuk pembedahan umum dan spesialistik termasuk untuk ENT, Urology, Ginekolog, Opthtamologi, bedah plastik dan setiap tindakan yang tidak membutuhkan peralatan yang mengambil tempat banyak. Area yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan pembedahan umum minimal 42 m2, dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 7mx6mx3m.
Peralatan kesehatan utama minimal yang berada di kamar ini antara lain :
a) 1 (satu) meja operasi (operation table),b) 1 (satu) set lampu operasi (Operation Lamp), terdiri dari lampu utama dan lampu satelit.c) 2 (dua) set Peralatan Pendant (digantung), masing-masing untuk pendan anestesi dan pendan bedah.d) 1 (satu) mesin anestesi,e) Film Viewer.f) Jam dinding.g) Instrument Trolley untuk peralatan bedah.h) Tempat sampah klinis.i) Tempat linen kotor.j) dan lain-lain.
3. Ruang Operasi Besar (Mayor).
Kamar Besar menyediakan lingkungan yang steril untuk melakukan tindakan bedah dengan pembiusan lokal, regional atau total. Ruang operasi besar dapat digunakan untuk tindakan pembedahan yang membutuhkan peralatan besar dan memerlukan tempat banyak, termasuk diantaranya untuk bedah Neuro, bedah orthopedi dan bedah jantung. Kebutuhan area ruang operasi besar minimal 50 m2, dengan ukuran panjang x lebar x tinggi adalah 7.2m x 7m x 3m.
4. Ruang Induksi
Pasien bedah menunggu di ruangan ini, apabila belum siap. Pembiusan lokal, regional dan total dapat dilakukan diruangan ini. Ruangan harus tenang, dan ruangan ini terbebas dari bahaya listrik. Area ruang induksi (preoperatif) yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 15 m2.
5. Ruang Penyiapan Peralatan (Preparation Room).
Ruangan ini digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan bahan-bahan bersih dan steril yang dipakai serta peralatan/instrumen untuk pembedahan pasien, penyimpanan dan penyiapan obat terjamin keamanannya, termasuk cairan suntik.

IV. PERSYARATAN KESELAMATAN
Pelayanan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, termasuk “daerah pelayanan kritis”, sesuai SNI 03 – 7011 – 2004, Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan”.
1. Sistem proteksi petir.
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit yang berdasarkan letak, sifat geografis, bentuk, ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir, harus dilengkapi dengan instalasi proteksi petir.
b. Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dan peralatan yang diproteksinya, serta melindungi manusia di dalamnya.
2. Sistem proteksi kebakaran
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif.
b. Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi, risiko kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan terpasang, dan/ atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit..
c. Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi, klasifikasi, luas, ketinggian, volume bangunan, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit..
d. Bilamana terjadi kebakaran di ruang operasi, peralatan yang terbakar harus segera disingkirkan dari sekitar sumber oksigen dan mesin anestesi atau outlet pipa yang dimasukkan ke ruang operasi untuk mencegah terjadinya ledakan.
e. Api harus dipadamkan di ruang operasi, jika dimungkinkan, dan pasien harus segera dipindahkan dari tempat berbahaya. Peralatan pemadam kebakaran harus dipasang diseluruh rumah sakit . Semua petugas harus memahami ketentuan tentang cara-cara proteksi kebakaran. Mereka harus mengetahui persis tata letak kotak alarm kebakaran dan mampu menggunakan alat pemadam kebakaran tersebut.
3. Sistem Kelistrikan
a. Sumber daya listrik.
Sumber daya listrik pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, termasuk katagori “sistem kelistrikan esensial 3” , di mana sumber daya listrik normal dilengkapi dengan sumber daya listrik siaga dan darurat untuk menggantikannya, bila terjadi gangguan pada sumber daya listrik normal.
b. Jaringan.
a. Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa digerakkan, harus dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang sepanjang track, untuk mencegah terjadinya retakan-retakan dan kerusakan-kerusakan pada kabel.
b. Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik, menghindari bahaya-bahaya tersebut.
c. Sambungan listrik pada outlet-outlet harus diperoleh dari sirkit-sirkit yang terpisah. Ini menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya pengaman lebur atau suatu sirkit yang gagal yang menyebabkan terputusnya semua arus listrik pada saat kritis.
c. Terminal.
a. Kotak kontak (stop kontak)
i. Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub pembumian terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah dengan kontak tusuk pasangannya.
ii. Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari udara dan akan menyelimuti permukaan lantai bila dibuka, Kotak kontak listrik harus dipasang 5 ft ( 1,5 m) di atas permukaan lantai, dan harus dari jenis tahan ledakan.
b. Sakelar.
Sakelar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04 – 0225 – 2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000), atau pedoman dan standar teknis yang berlaku.
d. Pembumian.
Kabel yang menyentuh lantai, dapat membahayakan petugas. Sistem harus memastikan bahwa tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui tahanan yang lebih tinggi dari pada bagian lain peralatan yang disebut dengan sistem penyamaan potensial pembumian (Equal potential grounding system). Sistem ini memastikan bahwa hubung singkat ke bumi tidak melalui pasien.
e. Peringatan.
Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik membawa akibat bahaya sengatan listrik, padamnya tenaga listrik, dan bahaya kebakaran. Kesalahan dalam instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung singkat, tersengatnya pasien, atau petugas. Bahaya ini dapat dicegah dengan :
a. Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk kamar operasi. Peralatan harus mempunyai kabel yang cukup panjang dan harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk menghindari beban lebih.
b. Peralatan jinjing (portabel), harus segera diuji dan dilengkapi dengan sistem pembumian yang benar sebelum digunakan.
c. Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan listrik yang tidak benar.
4. Sistem Gas Medis dan Vakum Medis
a. Vakum, udara tekan medik, oksigen, dan nitrous oksida disalurkan dengan pemipaan ke ruang operasi. Outlet-outletnya bisa dipasang di dinding, pada langit-langit, atau digantung di langit-langit.
b. Bilamana terjadi gangguan pada suatu jalur, untuk keamanan ruang-ruang lain, sebuah lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm bel berbunyi, pasokan oksigen dan nitrous oksida dapat ditutup alirannya dari panel-panel yang berada di koridor-koridor, Bel dapat dimatikan, tetapi lampu indikator yang memonitor gangguan/kerusakan yang terjadi tetap menyala sampai gangguan/kerusakan teratasi.
c. Selama terjadi gangguan, dokter anestesi dapat memindahkan sambungan gas medisnya yang semula secara sentral ke silinder-silinder gas cadangan pada mesin anestesi.

V. PERSYARATAN KESEHATAN
1. Sistem ventilasi.
a. Ventilasi di ruang operasi harus pasti merupakan ventilasi tersaring dan terkontrol. Pertukaran udara dan sirkulasi memberikan udara segar dan mencegah pengumpulan gas-gas anestesi dalam ruangan.
b. Dua puluh lima kali pertukaran udara per jam di ruang bedah yang disarankan.
c. Filter microbial dalam saluran udara pada ruang bedah tidak menghilangkan limbah gas-gas anestesi. Filter penyaring udara, praktis hanya menghilangkan partikel-partikel debu.
d. Jika udara pada ruang bedah disirkulasikan, kebutuhan sistem scavenger untuk gas (penghisapan gas) adalah mutlak, terutama untuk menghindari pengumpulan gas anestesi yang merupakan risiko berbahaya untuk kesehatan anggota tim bedah.
e. Ruang bedah menggunakan aliran udara laminair.
g. Tekanan dalam setiap ruang operasi harus lebih besar dari yang berada di koridor-koridor, ruang sub steril dan ruang pencucian tangan (;scrub-up) (tekanan positif).
h. Tekanan positif diperoleh dengan memasok udara dari diffuser yang terdapat pada langit-langit ke dalam ruangan. Udara dikeluarkan melalui return grille yang berada pada + 20 cm diatas permukaan lantai.
i. Organisme-organisme mikro dalam udara bisa masuk ke dalam ruangan, kecuali tekanan positip dalam ruangan dipertahankan.

2. Sistem pencahayaan.
a. Pencahayaan Umum.
a. Bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.
b. Ruang fasilitas/akomodasi petugas dan ruang pemulihan sebaiknya dibuat untuk memungkinkan penetrasi cahaya siang langsung/tidak langsung.
c. Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi, dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan.
d. Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman.
e. Semua sistem pecahayaan buatan, kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat, harus dilengkapi dengan pengendali manual, dan/atau otomatis, serta ditempatkan pada tempat yang mudah dibaca dan dicapai, oleh pengguna ruang.
f. Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit.
g. Disarankan pencahayaan ruangan menggunakan lampu fluorecent, dengan pemasangan sistem lampu recessed karena tidak mengumpulkan debu.
h. Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan.
i. Dokter anestesi harus mendapat cukup pencahayaan, sekurang-kurangnya 200 footcandle (= 2.000 Lux), untuk melihat wajah pasiennya dengan jelas.
j. Untuk mengurangi kelelahan mata (fatique), perbandingan intensitas pencahayaan ruangan umum dan di ruang operasi, jangan sampai melebihi satu dibanding lima, disarankan satu berbanding tiga.
k. Perbedaan intensitas pencahayaan ini harus dipertahankan di koridor, tempat pembersihan dan di ruangannya sendiri, sehingga dokter bedah menjadi terbiasa dengan pencahayaan tersebut sebelum masuk ke dalam daerah steril. Warna-warni cahaya harus konsisten.
b. Pencahayaan tempat operasi/bedah
a. Pencahayaan tempat operasi/bedah tergantung dari kualitas pencahayaan dari sumber sinar lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead) dan refleksi dari tirai.
b. Cahaya atau penyinaran haruslah sedemikian sehingga kondisi patologis bisa dikenal.
c. Lampu operasi/bedah yang menggantung (overhead), haruslah :
i. Membangkitkan cahaya yang intensif dengan rentang dari 10.000 Lux hingga 20.000 Lux yang disinarkan ke luka pemotongan tanpa permukaan pemotongan menjadi silau.
ii. Harus memberikan kontras terhadap kedalaman dan hubungan struktur anatomis.
d. Lampu sebaiknya dilengkapi dengan kontrol intensitas. Dokter bedah akan meminta cahaya agar lebih terang jika diperlukan. Lampu cadangan harus tersedia.
e. Pilihlah cahaya yang mendekati biru/putih (daylight). Kualitas cahaya dari tissue yang normal diperoleh dengan energi spektral dari 1800 hingga 6500 Kelvin (K). Disarankan menggunakan warna cahaya yang mendekati warna terang (putih) dari langit tidak berawan di siang hari, dengan temperatur kurang lebih 5000 K. e) Kedudukan lampu operasi/bedah harus bisa diatur menurut suatu posisi atau sudut.
f. Pergerakan ke bawah dibatasi sampai 1,5 m di atas lantai kalau dipergunakan bahan anestesi mudah terbakar.
g. Jika hanya dipergunakan bahan tidak mudah terbakar, lampu bisa diturunkan seperti yang dikehendaki.
h. Umumnya lampu operasi/bedah digantung pada langit-langit dan armatur/fixturenya bisa digerakkan/digeser-geser.
i. Beberapa jenis lampu operasi/bedah mempunyai lampu ganda atau track ganda dengan sumber pada tiap track .
j. Lampu operasi direncanakan untuk dipergunakan guna memperoleh intensitas cahaya yang cukup dan bayangan yang sekecil mungkin pada luka pembedahan.
k. Armatur/fixture disesuaikan sedemikian hingga dokter bedah bisa mengarahkan sinar dengan perantaraan pegangan-pegangan yang steril pada armatur/fixture tersebut.
3. Sistem Sanitasi
Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi, setiap bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus dilengkapi dengan sistem air bersih, sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan sampah, serta penyaluran air hujan.
a. Sistem air bersih.
a. Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbang kan sumber air bersih dan sistem distribusinya.
b. Sumber air bersih dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
c. Perencanaan sistem distribusi air bersih dalam bangunan rehabilitasi medik harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.
b. Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah.
a. Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya.
b. Pertimbangan jenis air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan.
c. Pertimbangan tingkat bahaya air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk sistem pengolahan dan pembuangannya.
c. Sistem pembuangan kotoran dan sampah.
a. Sistem pembuangan kotoran dan sampah harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.
b. Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah pada bangunan rehabilitasi medik, yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan, jumlah penghuni, dan volume kotoran dan sampah.
c. Pertimbangan jenis kotoran dan sampah diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni, masyarakat dan lingkungannya. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pengolahan fasilitas pembuangan kotoran dan sampah pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
d. Sistem penyaluran air hujan.
a. Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota.
b. Setiap bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan.
c. Kecuali untuk daerah tertentu, air hujan harus diserapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima, maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang.
e. Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran.

V. PERSYARATAN KENYAMANAN.

1. Sistem pengkondisian udara.
a. Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempertimbang kan temperatur dan kelembaban udara.
b. Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan :
i. fungsi ruang, jumlah pengguna, letak, volume ruang, jenis peralatan, dan penggunaan bahan bangunan.
ii. kemudahan pemeliharaan dan perawatan, dan
iii. prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.
c. Sistem ini mengontrol kelembaban yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan. Kelembaban relatip yang harus dipertahankan adalah 45% sampai dengan 60%, dengan tekanan udara positif pada ruang operasi.
d. Uap air memberikan suatu medium yang relatip konduktif, yang menyebabkan muatan listrik statik bisa mengalir ke tanah secapat pembangkitannya. Loncatan bunga api dapat terjadi pada kelembaban relatip yang rendah. e. Temperatur ruangan dipertahankan sekitar 190C sampai 240C.
e. Sekalipun sudah dilengkapi dengan kontrol kelembaban dan temperatur, unit pengkondisian udara bisa menjadi sumber micro-organisme yang datang melalui filter-filternya. Filter-filter ini harus diganti pada jangka waktu yang tertentu.
f. Saluran udara (ducting) harus dibersihkan secara teratur.
g. Ruang operasi dilengkapi dengan sistem aliran laminar ke bawah dengan hembusan udara dari plenum ( 8 sampai 9 m2). Pada kondisi kerja dengan lampu operasi dinyalakan dan adanya tim bedah, suplai udara dan profil hembusan udara dipilih sedemikian rupa sehingga aliran udara tidak lewat melalui setiap sumber kontaminasi sebelum mengalir kedalam area bedah atau diatas meja instrumen.
h. Jika pada area penyiapan instrumen/ peralatan steril tidak dilakukan di bawah aliran udara aliran udara ke bawah dari langit-langit, preparasi steril dengan sistem aliran laminar kebawah harus dibuat sendiri dalam area preparasi steril atau tempat dimana preparasi steril dilakukan (contoh di koridor kompleks bedah).
i. Sebaiknya dipastikan bahwa tidak ada emisi debu dari bagian bawah langit-langit pada area preparasi dan ruang operasi ke dalam ruangan. Langit-langit dengan bagian bawah yang rapat sebaiknya digunakan atau ruangan di bagian bawah langit-langit sebaiknya dapat menahan tekanan khususnya di area preparasi dan ruang operasi.
j. Penting untuk memilih perletakan lubang ducting udara masuk dan keluar dari sistem ventilasi guna mencegah terkontaminasinya udara buang terisap kembali jika angin meniup dalam arah tertentu.
k. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan rehabilitasi medik mengikuti SNI 03 – 6572 – 2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung , atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.
2. Kebisingan
a. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempertimbang kan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupu di luar bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit
b. Indeks kebisingan maksimum pada ruang operasi adalah 45 dBA dengan waktu pemaparan 8 jam.
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan instalasi bedah mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
3. Getaran.
a. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit, pengelola bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit harus mempertimbang kan jenis kegiatan, penggunaan peralatan, dan/ atau sumber getar lainnya baik yang berada pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit maupun di luar bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.

VI. PERSYARATAN KEMUDAHAN
1. Kemudahan hubungan horizontal.
a. Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan Ruang Operasi Rumah Sakit tersebut.
b. Jumlah, ukuran, dan jenis pintu, dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang, fungsi ruang, dan jumlah pengguna ruang.
c. Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan.
d. Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor, fungsi ruang dan jumlah pengguna.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan pintu dan koridor mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
2. Kemudahan hubungan vertikal.
a. Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut berupa tersedianya tangga, ram, lif, tangga berjalan/ eskalator, dan/atau lantai berjalan/travelator.
b. Jumlah, ukuran dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi bangunan rumah sakit, luas bangunan, dan jumlah pengguna ruang, serta keselamatan pengguna bangunan rumah sakit.
c. Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif, harus menyediakan lif kebakaran.
d. Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan lif, mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
3. Sarana evakuasi.
a. Setiap bangunan rumah sakit, harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi yang dapat dijamin kemudahan pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.
b. Penyediaan sistem peringatan bahaya bagi pengguna, pintu eksit, dan jalur evakuasi disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung, jumlah dan kondisi pengguna bangunan rumah sakit, serta jarak pencapaian ke tempat yang aman.
c. Sarana pintu eksit dan jalur evakuasi harus dilengkapi dengan tanda arah yang mudah dibaca dan jelas.
d. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan sarana evakuasi mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.
4. Aksesibilitas.
a. Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk ke dan ke luar dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit secara mudah, aman nyaman dan mandiri.
b. Fasilitas dan aksesibilitas sebagaimana dimaksud meliputi toilet, telepon umum, jalur pemandu, rambu dan marka, pintu, ram, tangga, dan lif bagi penyandang cacat dan lanjut usia.
c. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi, luas dan ketinggian bangunan rumah sakit.
d. Ketentuan tentang ukuran, konstruksi, jumlah fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang berlaku.

REFERENSI
1. Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-Undang RI No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung.
4. Joanna R. Fuller, Surgical Technology, Principles and Practice, Saunders.
5. American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, Handbook, Applications, 1974 Edition, ASHRAE.
6. American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers, HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition, ASHRAE.
7. G.D. Kunders, Hospitals, Facilities Planning and Management, Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, 2004.

Dikutip dari : dokterharry.com

 

Profile Company | AQSHA MEDIKA

Aqsha Medika adalah perusahaan penyalur alat kesehatan – furniture rumah sakit – alat peraga pendidikan dan kesehatan – produk DAK BKKBN – Reagensia dan Bahan Kimia Laboratorium – Radiologi – Apotek dan Farmasi serta Home Care.

Visi dan Misi merupakan rumusan strategis perusahaan yang akan menghimpun seluruh potensi dalam perusahaan untuk bekerja jujur, serius dan fokus serta profesional berikut dengan bekal menejemen yang sehat membuat kekuatan yang satu dalam kebersamaan dalam melayani masyarakat.

VISI

Menjadi perusahaan penyalur, penyedia dan pelayanan kebutuhan dibidang alat-alat kesehatan guna untuk berpartisipasi dan memberi kontribusi dalam pembangunan dan pengembangan dunia kesehatan, serta ikut mendukung dan mewujudkan peningkatan program kesehatan pemerintah untuk masyarakat yang lebih baik.

MISI

Memenuhi kebutuhan masyarakat akan peralatan dan bahan-bahan alat kesehatan yang mempunyai keunggulan kompetitif. Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia (karyawan) sehingga dapat berperan dalam pengembangan perusahaan dengan lebih mengedapankan pelatihan dan uji mutu serta kualitas melalui beberapa kegiatan seminar dan pelatihan formal.

Memberikan pelayanan kepada konsumen secara maksimal melalui tenaga-tenaga yang profesional dan terlatih sehingga keberadaan perusahaan dapat bermanfaat bagi masyarakat umum dan semua pihak yang berhubungan dengan perusahaan.

Perusahaan menganut nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dengan moral dan spirit yang memotivasi terciptanya iklim kerja yang sehat dan kompetitif. Nilai-nilai penting yang dijalankan secara konsisten dan penuh komitmen selama ini mengantarkan pada pencapaian kinerja yang optimal dan berkesinambungan.

Kepercayaan

Perusahaan membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat khususnya pelanggan berdasarkan integritas, komitmen dan kejujuran.

Dedikasi

Loyalitas, antusiasme dan pengabdian menjadi modal penting yang membentuk kuatnya dedikasi seluruh elemen dalam perusahaan terhadap pekerjaan dan tanggung jawab.

Kinerja yang tinggi

Perusahaan mendorong peningkatan kinerja optimalnya melalui peningkatan kompetensi, profesionalisme dan tanggung jawab yang didasari jiwa besar atas segala usaha yang dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada usaha yang didasari oleh nilai-nilai dan norma-norma Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai batas keyakinan yang dilakukan.

Pelayanan dan Service

Perusahaan melayani segala kebutuhan konsumen/ pelanggan dan masyarakat dengan jangkauan wilayah seluruh Indonesia dengan tetap mengontrol proses pengiriman dan menjaga keamanan dan jaminan purna jual barang yang dikirim dengan kemasan yang baik agar sampai pada lokasi dalam keadaan aman sehingga tercapai target dimana kepuasan Anda adalah harapan dari kami.

Jakarta, 01 Maret 2017

M. Fadel Aqsha R